Minggu, 26 April 2009

Ayah

Aku memandangi wajah ayahku yang sedang tertidur. Mengamati guratan-guratan yang tergores di wajah tuanya. Goresan perjalanan hidup yang tersusupi peluh dan air mata. Goresan yang seolah-olah meluapkan begitu banyak kenangan di antara aku dan ayahku.

Anganku menerbangkan ingatanku ke masa kecilku. Teringat bagaimana ayahku mengenggam tanganku begitu erat saat menyebrang jalan bahkan tak segan beliau menggendongku begitu erat saat harus melewati keramaian jalan. Ayahku melindungiku dengan lengannya yang kokoh yang seolah-olah berkata bahwa tak ada satu hal pun di dunia ini dapat menggangguku. Aku ingat betapa ayahku sering mengangkat tubuhku tinggi-tinggi berulang kali sampai aku tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Terbanglah, nak…gapai impianmu seringgi-tingginya…” Saat itu aku tak begitu paham maksudnya. Yang aku mengerti bahwa melayang-layang di udara sungguh mengasyikkan. Dan saat tubuhku kembali menginjak daratan aku pun memaksa ayahku untuk mengangkatku kembali. namun ayahku tersenyum dan mengatakan bahwa manusia harus sadar bahwa kita ini hidup di darat bukan di udara. Waktu bermain selesai, anakku.

Ayahku seorang yang keras. Badannya penuh luka hasil dari perjalanan hidupnya. Tangannya kasar karena pekerjaannya. Namun tangan itulah yang tak henti mengusap rambutku sampai aku tertidur. Tangan itulah yang membelai punggungku saat aku dilanda keresahan. Tangan itulah yang mencengkram bahuku dan menegakkan tubuhku saat aku terjatuh. Tangan dan lengan yang begitu panik menggendongku ke rumah sakit saat aku demam tinggi. Tangan yang tak segan memukulku saat aku melanggar aturan. Serta tangan itulah yang tak pernah lelah menengadah dalam doa-doanya, mengusap air matanya saat harapan bagi kebahagiaan keluarga yang dicintainya dilantunkan.

Namun dalam kelembutan hatinya, disiplin adalah prinsipnya. Tak segan ayahku memarahiku saat aku berbuat nakal atau lupa membuat PR. Menghukumku saat aku mangkir mengaji dan malah bermain-main bersama teman-temanku. Mengamuk habis-habisan saat aku lalai sholat apalagi saat aku melawan ibuku. Ayahku bisa sangat murka. Namun setelah kemarahannya reda, ayah akan memelukku erat dan berkata betapa dia sangat menyayangiku. Saat itu aku tak mengerti mengapa rasa sayang diungkapkan dengan kemarahan. Namun akhirnya aku mengerti betapa hukuman Tuhan lebih pedih daripada hukuman ayahku. Ayahku sangat mencintaiku.

Ayahku bersifat keras tapi bukan diktator. Saat aku beranjak remaja, ayah tidak pernah melarangku bermain bersama teman-teman dan mengikuti berbagai kegiatan. Ayah juga tidak pernah melarangku berpergian kesana kemari mengunjungi berbagai tempat. Tapi ayahku tetap ayahku. Ayah tetap akan memarahiku saat aku berbohong atau saat nilai-nilaiku menurun. Menghukumku saat aku mangkir mengaji dan malah bermain-main bersama teman-temanku. Mengamuk habis-habisan saat aku lalai sholat apalagi saat aku melawan ibuku. Ayah tetap seperti itu. Tapi mungkin kuantitas kemarahannya sudah jauh berkurang. Aku pun sudah jauh lebih mengerti.

Kini saat aku sudah dewasa, memandangi wajah tua ayahku membuat hatiku pilu. Begitu keras perjuangan hidupnya dan begitu melelahkan segala rintangan yang dilewatinya. Namun dia tak pernah sekalipun mengeluh demi cintanya terhadap keluarganya. Terkadang sakitpun tak dirasakannya demi membahagiakan anak istrinya. Aku bahkan tak tahu bagaimana bisa aku membalas segala kasih dan pengorbanan Ayah. Saat aku tanyakan itu, ayah hanya tersenyum. Ayah berkata ia tidak butuh apa-apa selain bait-bait doa dari anaknya yang soleh agar dapat melapangkan kuburnya, memudahkan hisabnya, membawanya ke surga dan berkumpul dengan keluarganya di sana.

Aku menangis.

1 komentar:

gallant mengatakan...

written by my lovely sister...